Kamis, 22 Juli 2010

laporan kegiatan magang cv.tani makmur

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Pada era globalisasi saat ini, semakin meningkatnya iptek khususnya dalam bidang kesehatan, semakin meningkat pula permintaan masyarakat terhadap obat-obatan sintetis (berbahan kimia). Namun, adanya efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan obat-obat tersebut, maka banyak orang cenderung beralih ke obat-obatan tradisional atau alami (back to nature). Oleh sebab itu, masyarakat terdorong untuk mencari alternatif lain yang lebih aman. Salah satu tanaman obat yang menjadi pilihan sebagian besar masyarakat yang sedang populer saat ini adalah buah naga (Dragon Fruit).
Pengembangan agribisnis buah naga mulai muncul di Indonesia pada tahun 2003. Dari bentuknya buah naga berbentuk bulat lonjong, seukuran dan menyerupai buah alpokat, tetapi bagian dalamnya berwarna putih, merah dan kuning berbintik, dengan rasa yang enak dan tidak terlalu manis, dan segar. Buah naga yang berasal dari jenis tanaman rumpun kaktus ini berasal dari Amerika dan Meksiko serta terus dikembangkan di Australia, Thailand dan Vietnam.
Pengembangan agribisnis buah naga (Dragon Fruit) mulai dirintis dan dikembangkan di daerah Malang, Jawa Timur dan Delanggu, Jawa Tengah. Kulonprogo, DI Yogyakarta. Dari Jenisnya buah naga ada empat macam, pertama buah naga daging putih (Hylocereus undatus), buah naga daging merah (Hylocereus polyrhizus), buah naga daging super merah (Hylocereus costaricensis) dan buah naga kulit kuning daging putih (Selenicerius megalanthus). Dengan melihat potensi pasar yang ada baik untuk pasar domestik maupun pasar ekspor dapat memberikan peluang yang baik dan menjanjikan.
Di lain sisi jika dilihat dari segi edapologi ada asatu hal lagi melatarbelakangi kegiatan magang ini. Hal yang melatarbelakangi adalah keberadaan tanah entisol yang berada di daerah pengembangan agribisnis seperti Yogyakarta (terkait lokasi magang) diketahui sebagai tanah yang belum berkembangan yang dapat diketahui dari dominasi fraksi pasir dari pada fraksi tanah yang lain. Seperti yang telah diketahui bahwa tanah yang didominasi fraksi pasir, memiliki sifat fisika yang kurang menguntungkan bagi tanaman. Faktor yang tidak menguntungkan tersebut adalah . Hal ini mengakibatkan pada menurunnya produktivitas tanaman yang tumbuh di atas tanah tersebut. Dalam rangka menanggulangi hal tersebut, maka dilakukan penanaman tanaman yang toleran terhadap tanah yang kurang mampu mengikat air, seperti entisols tersebut. Tanaman yang dimaksud adalah tanaman yang berasal dari famili Cactaceae. Tanaman ini memiliki penciri fisiologis yang tahan terhadap tanah kering. Jenis tanaman Cactaceae yang tahan kering dan berperan dalam pemenuhan pangan masyarakat salah satu diantaranya buah naga.
Perguruan Tinggi merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berperan dalam pembinaan kepribadian dan mental manusia yang mengarah pada peningkatan daya pikir manusia dan penguasaan ilmu dan teknologi. Sebagai calon sarjana pertanian, mahasiswa dituntut untuk dapat memahami dan menerapkan ilmu pertanian dalam dunia kerja, salah satunya melalui kegiatan magang mahasiswa. Kegiatan magang mahasiswa ini merupakan sarana bagi mahasiswa pertanian untuk dapat menerapkan teori-teori yang diperoleh selama perkuliahan dan juga sebagai pengalaman kerja yang dapat melatih mahasiswa untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi di lapang selama magang mahasiswa.
Magang mahasiswa ini dilakukan di CV. Tani Makmur (Ayodya Intergrated Farming) yang merupakan perusahaan yang bergerak di bidang budidaya tanaman buah naga. Hal ini di sebabkan karena tanaman buah naga memiliki berbagai manfaat dan dapat dihasilkan berbagai produk turunannya seperti sirup buah naga, kapsul, bahan pewarna, olahan es krim, puding buah naga dan sebagainya. Selain itu saat ini tanaman buah naga termasuk tanaman yang masih langka dan awam bagi masyarakat di Indonesia. Oleh sebab itu potensi pengembangan tanaman ini sangat besar dalam jangka waktu kurang lebih 5 sampai 10 tahun ke depan.
Akhirnya, kegiatan ini akan memberikan dampak terhadap peningkatan aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan sikap dan dapat melatih kepekaan mengidentifikasi permasalahan dan mencari alternatif solusi melalui pendekatan lintas disiplin ilmu guna meningkatkan kemampuan intelektualnya.
2. Tujuan Kegiatan
a. Tujuan Umum Magang
1). Meningkatkan pemahaman kepada mahasiswa mengenai hubungan antara teori dan penerapannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk terjun ke masyarakat.
2). Mahasiswa memperoleh pengalaman dan sikap yang berharga dengan mengenali kegiatan-kegiatan di lapangan kerja yang ada di bidang pertanian secara luas.
3). Mahasiswa memperoleh ketrampilan kerja dan pengalaman kerja yang praktis yaitu secara langsung dapat menjumpai, merumuskan serta memecahkan permasalahan yang ada dalam kegiatan di bidang pertanian.
4). Meningkatkan hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, instansi swasta, perusahaan dan masyarakat, sehingga dapat meningkatkan mutu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
b. Tujuan Khusus Magang
1). Meningkatkan pemahaman antara teori dan aplikasi lapangan mengenai budidaya buah naga di CV. Tani Makmur (Ayodya Intergrated Farming).
2). Mengetahui dan mempraktekkan teknik budidaya tanaman buah naga.
3). Mengetahui proses kegiatan budidaya tanaman buah naga dari penanaman sampai proses pemasaran bibit buah naga.
4). Memperoleh ketrampilan dan pengalaman kerja dalam merumuskan dan memecahkan permasalahan yang ada di kebun buah naga CV. Tani Makmur (Ayodya Intergrated Farming).
B. TINJAUAN PUSTAKA

1. Buah Naga
Buah Naga sama sekali tidak berhubungan dengan seekor naga. Buah naga atau Heloserkus undatus terbilang buah yang baru dikenal di Indonesia. Buah yang berasal dari Meksiko ini terkenal mujarab menurunkan kadar gula darah dan kolesterol. Dan kini buah naga mulai dikembangkan di tanah air, serta memiliki peluang besar untuk disebarluaskan (Anonim, 2009).
Buah naga (Dragon fruit) dalam klasifikasi botani dapat diuraikan sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta ( Tumbuhan berbiji)
Subdivisi : Angiospermae (berbiji tertutup)
Kelas : Dicotyledonae (berkeping dua)
Ordo : Caryophyllales atau Cactales
Famili : Cactaceae
Genus : Hylocercus
Species : Varietas putih (Hylocereus undatus),
Varietas merah (Hylocereus polyrhizus),
Varietas kuning (Hylocereus megalanthus) (Kristanto, 2003).
Buah naga termasuk dalam keluarga tanaman kaktus dengan karakteristik memiliki duri pada setiap ruas batangnya. Aslinya berasal dari Meksiko, Amerika Selatan. Konon disebut buah naga, karena seluruh batangnya yang menjulur panjang seperti layaknya naga. Dalam perkembangannya, tanaman ini kemudian dikembangkan di Israel, Thailand dan Australia.
Buah naga (Dragon Fruit atau Hylocereus undatus) beasal dari Taiwan ini memiliki bentuk yang sangat unik dan cukup memikat untuk di lihat. Bentuk fisiknya mirip dengan buah nanas hanya saja buah ini memiliki sulur/jumbai di sekujur kulitnya dan buah ini berwarna merah jambu (Pink) dengan daging buah berbagai jenis antara lain berwarna Putih, Kuning dan Merah dengan biji kecil berwarna hitam yang sangat lembut dan lunak. Rasa buah tergantung jenis warna daging buah itu, Bila warna merah cenderung manis dan legit dengan perpaduan rasa yang sangat khas. Warna putih rasanya manis dan segar sedangkan kuning perpaduan antara ke dua warna di atas. Bentuk tanaman hampir mirip dengan pohon kaktus berupa sulur-sulur yang memanjang seperti lidah naga yang menjulur. Berat rata-rata ± 600 s.d
800 gram (Anonim, 2009).
Jenis buah naga ada empat macam, pertama buah naga daging putih (Hylocereus undatus), buah naga daging merah (Hylocereus polyrhizus), buah naga daging super merah (Hylocereus costaricensis) dan buah naga kulit kuning daging putih (Selenicerius megalanthus). Dari 4 jenis buah naga, buah naga daging putih paling banyak digemari dan diminati. Selain bentuk dan ukuran yang lebih besar dari 3 jenis buah naga lainnya, buah naga daging putih juga terasa lebih manis.
2. Teknik Budidaya
Teknik budidaya tanaman buah naga dapat dilakukan melalui beberapa cara sebagai berikut :
a. Bahan tanaman
Buah naga dibiakkan melalui penyemaian biji atau stek batang. Penanaman melalui stek batang lebih baik karena bahan tanaman mudah diperoleh dan dapat tumbuh dengan cepat. Bahan tanam tersebut dikeringkan di tempat yang sesuai dan ditanam dalam polibag. Bahan stek dapat langsung ditanam di ladang dengan diberi tiang panjatan. Bahan stek yang telah ditanam akan tumbuh menjalar ke atas mengikuti tiang panjatan. Sebaiknya bahan yang telah ditanam, diikat pada tiang supaya tidak mudah terkulai dan patah. Apabila stek batang buah naga sudah membesar dan memenuhi tiang panjatan, sebaiknya dijarangkan supaya tidak tumpang tindih. Sulur air (stem) yang memanjang dijaga supaya tidak mudah patah.
b. Pemupukan
Pemberian pupuk organik cair dapat dilakukan 7 hari sekali dan makin sering dilakukan apabila tanaman sudah besar. Sulur air (stem) yang keluar dibuang supaya batang utama dapat membesar dengan baik. Pemupukan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan tanaman perlu dilakukan untuk menjamin pertumbuhan tanaman dan buah yang berkualitas dan berkelanjutan.
c. Penyiraman
Tanaman ini secara umum tidak memerlukan air yang banyak. Hal ini karena tanaman ini termasuk jenis kaktus padang pasir yang dapat menyimpan air. Penyiraman hanya dilakukan secukupnya pada musim panas. Pipa jenis PVC dipasang untuk memudahkan penyiraman yang dilakukan pada musim panas. Secara umum, tanaman disiram seminggu sekali, tetapi saat musim hujan, tidak perlu dilakukan penyiraman.
d. Pembungaan
Tanaman buah naga akan berbunga setelah satu tahun penanaman.
Terdapat beberapa tingkatan dalam proses pembungaan yaitu;
1). pembungaan
2). pembentukan buah
3). pembesaran buah
4). matang
5). panen
Tanaman buah naga mekar bunga pada malam hari, dan biasanya hanya satu hari terakhir dimana penyerbukan merupakan hal yang penting untuk pembentukan buah. Pada saat produksi banyak, tanaman dapat berbuah 4-6 kali dalam satu tahun (Anonim,2008).
e. Pemangkasan
Pemangkasan ialah kegiatan pemeliharaan yang penting. Dahan yang telah cukup panjang dan dahan yang telah menghasilkan buah perlu dipangkas dan dahan yang tua dan berwarna hijau juga perlu dipangkas dapat dijadikan untuk bahan tanaman. Panjang stek dan ukuran batang akan mempengaruhi masa pembungaan pada penanaman yang akan datang.
f. Penyiangan
Pembersihan rumput pengganggu atau gulma akan dilakukan dengan mengunakan tangan atau secara mekanik.
g. Hama dan Penyakit
Setiap tanaman atau tumbuhan mempunyai organisme pengganggu atau hama. Hama yang biasa menyerang tanaman buah naga ini ialah burung, tupai, tikus dan kelelawar. Hewan ini akan memakan buah yang sudah masak. Oleh karena itu pengendalian dilakukan supaya buah yang dihasilkan tidak rusak atau busuk dan dapat dipasarkan. Hama lain yang menyerang adalah kumbang Xylopetrus. Lalat buah dapat dikendalikan dengan menggunakan kertas atau jaring pembungkus.
3. Teknik Inovasi
a. Efek Emerson (Naungan Plastik Merah dan Biru)
Pada tahun 1950-an, Robert Emerson dari Universitas Illinois tertarik pada masalah mengapa cahaya merah dengan panjang gelombang > 690 nm sangat tidak efektif untuk fotosintesis, walaupun sebagian besar dapat diserap oleh klorofil a secara in vitro. Emerson dan sejawatnya mendapatkan bahwa jika cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek diberikan bersama-sama dengan cahaya merah, maka laju fotosintesis menjadi lebih tinggi dari jumlah hasil fotosintesis jika masing-masing gelombang cahaya diberikan secara sendir-sendiri. Gejala sinergis atau pemacuan ini kemudian dikenal sebagai efek pemacuan emerson (Emerson enhancement effect) (Lakitan, 2004).
Efek emerson mungkin terjadi karena gelombang cahaya merah membantu membantu gelombang cahaya yang lebih pendek atau sebaliknya. Sekarang telah diketahui, bahwa terdapat dua kelompok pigmen yang bekerjasama dalam fotosintesis dan gelombang cahaya merah hanya diserap oleh salah satu fotosistem, yakni fotosistem I (PS I). Fotosistem yang lainnya adalah fotosistem II (PS II) menyerap cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek dari 690 nm, yang kebanyakan ditimbulkan oleh gelombang cahaya biru (Lakitan, 2004).
b. Mulsa Plastik Hitam Perak
Mulsa adalah penutup media tanaman yang umumnya terdapat pada lahan yang berbedeng, yang dapat berasal dari bahan organik maupun anorganik (Anonim, 2007). Mulsa anorganik merupakan mulsa yang terbuat dari bahan selain bahan organik. Mulsa anorganik yang dipakai oleh petani kebanyakan adalah mulsa plastik hitam perak. Mulsa tersebut memiliki identifikasi sebagai berikut : terbuat dari bahan polivenil dan kedua sisinya berwarna berbeda yaitu salah satu sisi berwarna hitam dan salah satu sisi yang lain berwarna perak. Fungsi warna hitam adalah menyimpan panas atau mengurangi fliktuasi suhu atara pagi dan malam hari serta mengurangi evaporasi tanah dengan kata lain menjaga kelembaban tanah dan mengurangi pengaruh munculnya gulma dan beberapa hama penyakit. Sedangkan fungsi warna perak adalah memantulkan cahaya matahari ke tajuk yang berada di bawah (Anonim, 2007).
4. Prospek Pemasaran
a. Kegunaan buah naga
Buah naga memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Buah ini dapat menyembuhkan penglihatan mata karena kandungan karotenoidnya yang tinggi. Fitokimia di dalam buahnya juga diketahui dapat merendahkan resiko kanker. Anthocyanin membebaskan radikal dan melambatkan proses penuaan. Kandungan vitamin C dapat menyebabkan kulit kelihatan lebih cerah. Selain itu dapat menurunkan berat badan karena buah naga kaya dengan serat yang mudah larut. Buah naga juga dapat menyembuhkan penyakit diabetes (kencing manis), memperlancar proses buang air besar, menurunkan kadar gula darah dan mengurangi kolesterol.
Buah naga paling lezat dikonsumsi dengan memotong/membelah buah menjadi dua bagian dan menyendok dagingnya. Rasa buah ini sangat segar dan manis. Buah naga lebih lezat disajikan dalam keadaan dingin dan dapat dibuat jus buah dan salad buah atau selai. Buah naga juga dapat ditambahkan ke dalam minuman alkohol untuk membuat minuman menjadi lebih lezat (Crystal, 2007).

b. Nilai ekonomis
Pengembangan agribisnis buah naga (Dragon Fruit) mulai dirintis dan dikembangkan di daerah Malang, Jawa Timur dan Delanggu, Jawa Tengah. Kulonprogo, DI Yogyakarta. Dari Jenisnya buah naga ada empat macam, pertama buah naga daging putih (Hylocereus undatus), buah naga daging merah (Hylocereus polyrhizus), buah naga daging super merah (Hylocereus costaricensis) dan buah naga kulit kuning daging putih (Selenicerius megalanthus) (Purba Frans H.K, 2005). Menurut Anonim (2007) buah naga warna kuning mempunyai nilai jual paling tinggi di Supermarket mencapai hingga harga Rp 50.000/kg nya sedang yang warna merah mencapai harga Rp 45.000,00 dan warna putih mencapai Rp 30.000,00.



















C. TATA LAKSANA KEGIATAN

1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Magang
Kegiatan magang mahasiswa ini dilaksanakan mulai tanggal 1 Juli 2009 sampai 31 Juli 2009 di Kebun Buah Naga CV. Tani Makmur (Ayodya Intergrated Farming), Jalan Raya Jogja-Kaliurang Km 10,9.
2. Metode Pelaksanaan Magang
Dalam melaksanakan kegiatan magang mahasiswa yang dilaksanakan di Kebun Buah Naga ini digunakan metode antara lain :
a. Pengumpulan data secara langsung
1). Wawancara
Yaitu melakukan wawancara dengan pihak-pihak dari instansi yang bersangkutan guna mengetahui segala hal yang diperlukan.
2). Praktik atau Aktivitas Langsung di Lapang
Turut serta dengan melaksanakan praktik kerja secara langsung dalam setiap kegiatan pengelolaan perkebunan di CV Tani makmur (Ayodya Intergrated Farming).
3). Observasi
Yaitu melakukan pengamatan secara langsung mengenai kondisi dan kegiatan yang ada dilokasi magang mahasiswa. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi serta memberikan alternatif solusi terhadap permasalahan yang dihadapi.
b. Pengumpulan data secara tidak langsung
1). Studi Pustaka
Yaitu mencari dan mempelajari pustaka mengenai permasalahan- permasalahan yang berkaitan dengan pelaksanaan magang mahasiswa.
2). Dokumentasi dan Data-Data
Yaitu mendokumentasikan dan mencatat data atau hasil-hasil yang ada pada pelaksanaan magang mahasiswa.


D. HASIL KEGIATAN DAN PEMBAHASAN

1. Profil Institusi Mitra
a. Letak dan Kondisi Wilayah
CV. Tani makmur (Ayodya Intergrated Farming) terletak di Dukuh Gentan, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Sinduharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Lokasi kebun ini mempunyai letak yang cukup strategis,yaitu terletak berdekatan dengan pasar Gentan sehingga memudahkan dalam pemasaran, dengan batas wilayah disebelah utara lapangan sepak bola, sebelah timur SMP 2 Ngaglik, sebelah selatan pemukiman penduduk, dan sebelah barat jalan raya Yogya-Kaliurang. Perusahaan ini terletak pada ketinggian 400 m dpl, suhu rata-rata harian 270C, curah hujan rata-rata tahunan adalah 720 mm/tahun, tanah beraerasi baik, kelembapan udara 70-90%, dan derajat keasaman (pH) adalah 6,5-7 (mendekati netral hingga netral) termasuk salah satu perusahaan terpadu yang mengkaitkan antara peternakan, perikanan, dan budidaya tanaman buah naga secara organik.
Kebun ini memiliki luas sekitar 1,8 hektar yang terdiri atas 3000 m2 kolam ikan, 2000 m2 kandang kambing, dan 1 ha kebun buah naga serta sisanya digunakan sebagai infrastruktur. Kebun buah naga berordo tanah entisol dengan tekstur tanah berpasir dan memiliki sumber air berasal dari air bawah tanah dan saluran irigasi. Dimana saluran irigasi hanya digunakan pada saat musim hujan.
b. Sejarah
CV. Tani Makmur merupakan sebuah perusahaan yang bergerak dalam berbagai bidang usaha khususnya pembibitan tanaman pertanian (hortikultura), perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan yang kemudian dikemas menjadi sebuah miniatur sistem pertanian terpadu (intergrated farming sistem). Lahan dengan luas hampir 2 ha ini, terletak di Jalan Kaliurang Km 10,9 yang berbasis kawasan agrowisata buah naga yang dilengkapi dengan peternakan kambing etawa dan ternak bebek serta budidaya perikanan baik ikan hias ataupun ikan konsumsi. Semua bidang tersebut akan menjadi sebuah keterpaduan yang saling memberikan manfaat serta meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaannya sehingga menghasilkan produktifitas yang lebih tinggi.
Perusahaan ini memulai usahanya di bidang pembibitan tanaman perkebunan, tanaman hutan dan sayuran organik. Perusahaan ini mulai berdiri pada tanggal 3 Januari 2002 dengan nama CV. Tani Makmur. Pada akhir bulan November 2002 berubah nama menjadi Ayodya Integrated Farming yang bergerak dibidang budidaya buah naga putih dan merah. Pada awalnya perusahaan ini memiliki dua cabang usaha yang berada di daerah Gunung Kidul yang mengusahakan budidaya tanaman jati unggul dan Kulon Progo persemaian bibit tanaman buah. Namun pada tahun 2005 kedua perusahaan ini ditutup.
Pada era globalisasi ini dunia usaha atau sektor swasta dituntut untuk siap berkompetisi disegala bidang, sehingga kemampuan usaha serta sumber daya manusia yang handal sangat diperlukan dalam persaingan yang semakin ketat ini. Hal ini sesuai dengan visi dan misi dari CV. Tani makmur (Ayodya Intergrated Farming) yaitu menjadikan suatu agrowisata pertanian terpadu dan membangun sebuah pertanian terpadu berbasis peternakan.
CV. Tani Makmur memiliki struktur organisasi dengan seorang pimpinan dengan beberapa karyawan tetap dan tidak tetap. Perusahaan ini pada awalnya dipimpin oleh Suharto, setelah berganti nama menjadi Ayodya Intergrated Farming kepemimpinannya diambil alih oleh SS Purnama Jaya SE, MBA. Perusahaan memiliki lima orang karyawan tetap terdiri dari tiga orang sebagai pekerja di bagian budidaya tanaman buah naga dan dua orang di peternakan kambing dan kelinci serta satu orang sebagai karyawan tidak tetap, yang menangani bagian perikanan.





STRUKTUR ORGANISASI CV. TANI MAKMUR































2. Hasil Kegiatan dan Pembahasan
a. Pembibitan
Tujuan dari pembibitan yaitu untuk menyediakan bahan perbanyakan tanam dengan tujuan komersial. Kegiatan pembibitan meliputi :
1). Persiapan Lahan
Sebelum bibit ditanam pada lahan perlu ditentukan lokasi penanaman yang terdiri dari dua tempat penanaman yaitu pada petakan (secara generatif) dan diantara dua bedengan (guludan) (secara vegetatif). Pada petakan perlu dipasang paranet. Paranet adalah rangkain rafia yang di potong secara membujur menjadi beberapa bagian kecil yang kemudian dianyam dengan pola ukuran kerapatan tertentu, umum digunakan dalam bidang pertanian sebagai penaung anorganik. Pemasangan paranet mempunyai tujuan untuk mengurangi intensitas cahaya matahari dan mengatur kelembaban pada persemaian. Kedua faktor tersebut merupakan salah satu komponen penting yang berpengaruh dalam fisiologi benih. Fisiologi benih tersebut tercermin pada laju tumbuh dan cepat lambat kemunculan kecambah. Seperti yang telah diketahui, biji atau benih generatif dalam persemaian, tidak lepas dari adanya tingkat keekstriman lingkungan. Semakin ekstrim ketahanan biji akan semakin menurun daya dan laju perkecambahan seiring dengan menurunnya cadangan makanan. Fungsi lainnya dari pemasangan paranet adalah untuk mengurangi penguapan pada bahan stek (transpirasi) sehingga bahan stek tidak cepat mengering yang dapat berpengaruh pada penampilan fisik dari bibit buah naga yang ditanam. Di lain sisi, pemasangan paranet memberikan pengaruh yang baik pada media tanam yang digunakan pada waktu itu, pengaruh tersebut adalah menjaga kondisi tanah yang tetap dalam kapasitas lapang dan mengurangi pengaruh evaporasi. Pengaruh pemasangan paranet terhadap evaporasi tersebut, sangat berkaitan erat terhadap kondisi tanah yang banyak didominasi oleh fraksi pasir (Entisols). Seperti yang telah diketahui bahwa tanah yang didominasi fraksi pasir, akan mudah sekali dalam melepaskan lengas tanah sehingga berpengaruh pada aktifitas biologis biota tanah (makroorganisme dan mikroorganisme) dan aktifitas fisiologi tanaman atau benih. Selain itu diperlukan pengolahan tanah dengan tujuan agar tanah menjadi lebih gembur (lebih remah) yang dapat merangsang pertumbuhan akar bibit buah naga, membuang materi gas yang bersifat toksik, mengurangi aktivitas organisme (baik makro maupun mikro) pengganggu tanaman yang kemungkinan besar masih hidup dalam tanah, memperbaiki aerasi dan draenasi tanah, menyingkirkan gulma dari area pertanaman, dan memperluas partikel tanah sehingga mempermudah dalam reaksi kimia tanah. Pengolahan tanah yang dilakukan adalah pengolahan tanah secara tradisional dengan mengunakan cangkul dan cengklong. Fungsi cangkul sendiri adalah untuk memindahkan atau membalik posisi tanah yang semula berada di bawah beralih posisi menjadi di atas. Sedangkan cengklong sendiri digunakan untuk memecah hasil balikan dari cangkul menjadi bagian yang lebih kecil.
Setelah itu pada petakan yang telah dicangkul (persiapan secara fisik), perlu ditambahkan dengan beberapa perlakuan media tanam (persiapan secara kimiawi). Persiapan ini meliputi dua perlakuan, dengan salah satu perlakuan tersebut merupakan inovasi dari peserta magang. Perlakuan pertama yang diterapkan merupakan perlakuan asli dari instansi magang yang berupa pupuk kandang sapi. Perlakuan kedua yang diterapkan merupakan perlakuan inovasi dari peserta magang yang berupa vermikompos. Tujuan dari masing-masing perlakuan pada media tanam tersebut yaitu untuk mengetahui pengaruh optimum laju perkecambahan bji buah naga pada masing masing media dan mengetahui salah perlakuan yang paling optimum.
Selain dilakukan di petakan, persemaian juga dilakukan diantara dua bedengan, dengan tujuan untuk efisiensi tempat dan pemanfaatan bibit vegetatif secara maksimum. Sebelumnya tanah yang berada diantara dua bedengan ini dilakukan pengolahan secara tradisional sama seperti pada petakan dengan penambahan perlakuan dua pupuk kandang, yaitu pupuk kandang sapi dan pupuk kandang kambing. Perlakuan kedua pupuk kandang ini diterapkan pada area antar bedengan yang berbeda. Adapun hal yang perlu dilakukan sebelum pemberian pupuk yaitu dilakukan penyiraman pada saat pagi dan sore hari. Hal ini bertujuan untuk menjaga kelembaban tanah, mengaktifkan biota tanah, dan untuk mempermudah reaksi kimia pada pupuk yang akan diberikan.

Gambar 1. Persiapan Lahan bibit Vegetatif
2). Penyediaan Benih dan Bibit
Tanaman buah naga dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Secara generatif dapat melalui biji, sedangkan secara vegetatif dapat melalui stek batang. Biji yang digunakan untuk perbanyakan diperoleh dari buah naga yang sudah benar-benar sehat, tua dan matang di pohon. Biji yang digunakan sebagai bakal generatif adalah biji buah naga putih. Setelah diseleksi, maka tahap selanjutnya dari bersama biji dipisahkan dengan cara diberi air dan di aduk sampai membentuk suspensi. Suspensi yang terbentuk kemudian disaring dengan menggunakan saringan sehingga terlihat biji yang yang tertinggal disaringan tersebut. Kemudian jika biji tersebut akan digunakan, maka biji tersebut harus direndam dalam air hangat selama semalam dan dapat pula ditambahkan zat perangsang tumbuh. Hal ini bertujuan untuk mempermudah perkecambahan dan mengatur kelembaban biji. Namun jika masih digunakan pada waktu yang masih lama, maka biji dapat disimpan dalam lemari es. Bahan atau cabang yang digunakan untuk stek harus dalam keadaan sehat, keras, tua, sudah berbuah (bekas tumbuh buah), berwarna hijau tua, dan dapat merupakan salah satu atau lebih percabangan dari cabang utama. Ukuran stek yang ideal antara 20 – 30 cm. Ukuran stek tersebut merupkan ukuran stek yang diinginkan. Hal tersebut disebabkan karena pada keadan tersebut, cadangan makanan yang digunakan selama masa pertumbuhan akar bibit stek hingga masa transplanting ke lahan asli.

Gambar 2. Persiapan Bahan Tanam Secara Vegetatif
3). Penyediaan Media Tanam
Media tanam yang digunakan pada antara dua bedengan adalah pasir, pupuk kandang, dan cocopeat atau seresah tanaman. Pasir bersifat porous, yang dapat membentuk aerasi dan drainase melalui jumlah pori makro yang terbentuk antar partikel pasir. Keadaan poreus tersebut harus diimbangi dengan adanya penambahan komoponen lain yang mampu menyimpan lengas tanah. Hal ini dikarenakan keadaan yang terlalu poreus, akan merugikan bibit itu sendiri. Bibit yang ditanam akan mengalami kekeringan dan kurang kokoh dalam pertumbuhan primer (memanjang). Komponen yang digunakan sebagai penyeimbangan keadaan yang poreus dari pasir adalah cocopeat atau seresah tanaman. Cocopeat atau seresah tanaman, mempunyai kemampuan dalam menangkap dan menyimpan air yang dihasilkan dari penyiraman. Pupuk kandang berfungsi untuk menambah nutrisi di dalam tanah yang dapat merangsang pertumbuhan tunas dan akar pada bibit buah naga. Nutrisi utama yang terdapat dalam pupuk kandang adalah nitrogen. Nitrogen berfungsi dalam pembentukan protein dan klorofil. Pupuk kandang yang digunakan adalah kotoran sapi dan kotoran kambing.

Gambar 3. Pencampuran media tanam
4). Pembuatan Persemaian
Lahan persemaian terdiri atas dua petak. Masing-masing petak mempunyai luas 6-7 m2. Pada petak pertama dengan perlakuan media tanam campuran antara tanah dan pupuk kandang. Pada petak ini dibutuhkan 1 karung pupuk kandang yang di campur rata dengan tanah yang telah tersedia pada petak tersebut. Pada petak kedua diaplikasikan perlakuan dengan vermikompos. Vermikompos yang dibutuhkan adalah sebanyak 5 kilogram yang kemudian dicampur dengan tanah pada petak tersebut. Vermikompos yang digunakan merupakan hasil praktikum peserta magang dari kegiatan praktikum teknologi pupuk hayati.
Dalam pemberian kedua perlakuan tersebut yang berbeda, ditujukan untuk membandingkan kecepatan tumbuh biji generatif yang ditanam pada masing-masing media. Dari peserta magang mengharapkan, pemberian vermikompos menunjukkan kemunculan kecambah yang lebih cepat.
Vermikompos diharapkan demikian karena pada vermikompos memiliki kelebihan dibandingkan dengan pupuk kandang. Kelebihan tersebut antara lain : mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Al, Na, Cu, Zn, Bo dan Mo tergantung pada bahan yang digunakan, vermikompos merupakan sumber nutrisi bagi mikroba tanah, memperbaiki kemampuan menahan air, mengandung humus yang berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah, mengandung hormon tumbuh tanaman, dan mempunyai struktur remah, sehingga dapat mempertahankan kestabilan dan aerasi tanah (Mashur, 2001).
5). Pemupukan Lahan Persemain
Pupuk yang digunakan pada lahan persemaian petak pertama adalah pupuk kandang kambing. Satu petak dengan luas 2,5 x 3 meter dibutuhkan 1 karung (25 kg) pupuk kandang sapi. Pemupukan dilakukan pada pagi hari dengan mencampur pupuk kandang dengan tanah hingga rata. Hal ini bertujuan untuk menghindari penguapan nitrogen dalam bentuk amonium. Setelah pemupukan dilakukan, sesegera mungkin dilakukan penyiraman. Hal ini bertujuan untuk melarutkan pupuk kandang sehingga meningkatkan meresapnya pupuk ke dalam tanah untuk segera diserap rambut-rambut akar dan mempercepat reaksi kimia antara pupuk dengan koloid tanah.
6). Penaburan Benih dan Penanaman Bibit
a. Penaburan benih
Penaburan benih dilakukan pada seperempat bagian dari petakan dengan perlakuan tanah dan pupuk kandang. Untuk memisahkan bagian persemaian bibit dengan benih dibatasi dengan tali rafia. Benih pada umumnya akan berkecambah dalam jangka waktu 3 hari.
b. Persiapan bibit
persiapan bibit ini dilakukan dengan menanam Bahan stek yang diperoleh dari pemangkasan cabang pohon buah naga yang sudah tua dan tidak produktif lagi dalam menghasilkan buah, melingkari pohon penyangga. Bahan stek ditanam maksimal sedalam 5 cm untuk menghindari pembusukan akar. Dan yang perlu diperhatikan dalam penanaman bahan stek ini adalah posisi batang yang tidak boleh terbalik, karena posisi penanaman batang yang terbalik dapat menyebabkan pembusukan akar.

Gambar 4. Penanaman Bahan Stek (Vegetatif)
c. Penanaman bibit
Penanaman bibit dilakukan setelah bahan stek yang ditanam melingkari pohon penyangga telah berakar (sekitar 5-7 HST). Kegiatan ini dilakukan dengan cara menancapkan bahan stek pada media tanam dengan jarak tanam yang rapat. Satu petak dengan ukuran 2,5 x 3 m terdapat 900 bahan stek.

Gambar 5. Penanaman bibit


7). Penyiraman
Penyiraman dilakukan setiap hari pada waktu sore hari, agar kelembaban tetap terjaga. Akan tetapi apabila kondisi tanah masih terlihat lembab maka penyiraman tidak perlu dilakukan. Hal ini karena tanah yang terlalu lembab dapat menyebabkan busuk pada pangkal batang yang memicu munculnya penyakit dan hama seperti rayap.
8). Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi berupa kegiatan pengecekan bahan stek yang mengalami busuk batang. Apabila ada yang busuk, maka pada bagian tersebut dihilangkan daging batangnya dan disisakan kambium batang. Selain itu dapat juga dengan memotong bagian yang busuk tersebut.
Dalam kegiatan pembibitan ini ditemukan adanya bibit yang terserang rayap, yang sebelumnya belum pernah menyerang bibit akan tetapi menyerang batang Glirisidae (ajir). Hal ini disebabkan penggunaan pupuk kandang yang belum matang pada lahan pembibitan.
Selain itu ditemukan juga masalah lain, yaitu benih yang disemai tidak dapat berkecambah, baik pada petakan dengan perlakuan pupuk kandang sapi maupun perlakuan vermikompos. Hal ini disebabkan benih buah naga termasuk benih rekalsitran, dimana benih tidak mengalami dormansi sehingga apabila tidak langsung ditanam benih akan mengalami kemunduran atau deteriorasi sehingga benih tidak dapat berkecambah. Disamping itu pengaruh lingkungan yang terlalu ekstrim juga mampu menghambat perkecambahan dan pertumbuhan. Sebaiknya penanaman biji dilakukan pada media yang soft, seperti kapas yang kemungkinan keekstriman lingkungannya kecil.
b. Penanaman
Kegiatan penanaman adalah untuk tujuan produksi. Kegiatan ini terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1). Persiapan Lahan Tanam
Persiapan lahan adalah kegiatan penyediaan tempat untuk tanaman supaya dapat tumbuh dengan baik di lahan pertanaman. Di tanah porous dan berdrainase baik, tanaman buah naga dapat tumbuh produktif. Persiapan lahan meliputi kegiatan pengolahan tanah dan pembuatan parit. Pengolahan tanah dilakukan setelah gulma dan rerumputan dibersihkan, kemudian tanah digemburkan. Hal ini bertujuan untuk menghindari serangan hama dan penyakit. Pembuatan parit diperlukan untuk menampung air hujan atau air siraman agar tidak menggenang di tanah mendatar.
2). Pengukuran Lahan
Pengukuran lahan dilakukan untuk menentukan jumlah pohon yang akan ditanam. Jarak tanam yang ideal untuk penanaman bibit buah naga yaitu 2 x 2,5 meter dengan setiap pohon satu tiang penyangga. Sebagai contoh, luas lahan 1 ha dengan jarak tanam 2 x 2,5 meter maka dapat ditanam 2000 tiang penyangga dengan tiap penyangga terdiri dari 4 bibit tanaman. Dengan demikian pada 1 ha lahan dibutuhkan 8000 bibit.
3). Pembuatan Lubang Tanam
Pembuatan lubang tanam untuk tiang penyangga dilakukan dengan menggali tanah sedalam 50 cm. Penggalian ini dilakakukan dengan menggunakan alat linggis. Penggalian pada kedalaman tersebut mempunyai tujuan agar tidak terjadi persaingan hara dan air antara tanaman penyangga dan tanaman buah naga.
4). Penanaman Tiang Penyangga
Buah naga tidak mempunyai batang primer yang kuat. Oleh karena itu harus menggunakan tiang penyangga yang terbuat dari beton supaya tahan lama berukuran 10 cm x 10 cm x 250 cm. Atau bisa juga menggunakan kayu jati, gliresidae, jaranan, sono keling, mahoni yang sudah diproses agar tidak mudah lapuk.
Cara penanaman ajir yaitu dengan ditancapkan kedalam tanah sedalam 50 cm dengan jarak tanam 2,5 m x 2 m atau 2,5 m x 2,5 m atau 3 m x 3m. Penyangga ini berfungsi sebagai tempat merambatnya pohon kaktus dan juga untuk menahan tanaman dari tiupan angin kencang, dibagian atas atau ujung ajir dibuatkan rangka kayu berukuran 2,5 cm x 2,5 cm. Rangka ini disususn menyilang 35 cm x 35 cm untuk menopang tanaman terutama saat awal penanaman harus dibantu dengan ikatan rafia atau tali yang sejenis. Sampai tanaman tersebut tumbuh akar tempel yang melilit pada ajir tersebut.
4). Penanaman Bibit
Penanaman bibit dilakukan dengan menanam bibit tidak terlalu dalam agar bibit tidak busuk. Pembusukan tersebut diakibatkan oleh adanya kelembaban yang terlalu tinggi sehingga mengakibatkan tumbuhnya mikroorganisme patogenik yang menyebabkan busuk batang. Posisi penanaman bibit yang perlu diperhatikan adalah letak dari ruas yang ditumbuhi duri harus menghadap ke atas. Hal tersebut disebabkan karena pada posisi itu, aliran hara dan air berada pada arah yang benar. Sehingga bagian bawah tetap berfungsi sebagai bagian penyerap air dan unsur hara, sedangkan bagian ujung merupakan bagian yang aktif mengalami pembelahan. Bibit yang baik memiliki panjang kurang lebih 30 cm dengan umur bibit yang sudah tua.
6). Pemupukan
Pemupukan pada awal penanaman dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk dasar yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik dapat menggunakan pupuk kandang. Sedangkan pupuk anorganik digunakan jenis pupuk ZA per tiang 20 g (0,02 kg) yang diberikan pada awal penanaman dan 6 bulan berikutnya. Kemudian 2 bulan menjelang musim hujan dengan menggunakan pupuk kandang sebanyak 5–10 kg. Pada tahun kedua jumlah pupuk organik ditambah dua kali lipatnya dengan periode yang sama. Pemupukan dengan pupuk organik dapat dilakukan secara berkala setiap 3-4 bulan sekali. Sedangkan penggunaan pupuk anorganik dihentikan ketika tanaman menjelang berbuah. Hal tersebut dikarenakan penggunaan pupuk anorganik dapat mempengaruhi rasa buah naga. Selain itu juga untuk menghindari adanya residu bahan kimia dalam buah.
7). Penyiraman
Penyiraman pada awal tanam dilakukan untuk membasahi tanah untuk menjaga kelembaban tanah supaya akar tanaman buah naga tumbuh subur. Penyiraman juga berfungsi untuk mencukupi tambahan mineral yang terlarut dalam air tersebut. Penyiraman baik dilakukan pada pagi atau sore hari. Hal ini disebabkan pada waktu tersebut cahaya matahari belum bersinar terik. Penyiraman yang dilakukan pada matahari terik akan menyebabkan strees tanaman, evaporasi, terbentuknya bidang lensa pada butiran air (membakar daun), dan besarnya arus mobilitas hara secara difusi.
c. Pemeliharaan
Untuk memperoleh tanaman buah naga yang baik, sehat, kuat dan produksinya tinggi diperlukan pemeliharaan yang meliputi:
1). Pemupukan
Pemupukan pada awal penanaman dapat dilakukan secara periodik tiap 1 - 3 bulan sekali dengan menggunakan pupuk kandang sebanyak 5 – 10 kg. Pada saat memasuki tahun kedua jumlah pupuk organik ditambah dua kali lipatnya dengan periode yang sama. Meningkatnya dosis pupuk organik bertujuan untuk mengurangi residu yang diberikan pupuk anorgani dan untuk mencapai target buah naga berkualitas organik.

Gambar 5. Pemberian pupuk kandang
2). Penyiraman
Tahap awal penanaman penyiraman dilakukan dalam waktu 1-2 hari sekali. Setelah akarnya tumbuh subur dapat diberi air dengan cara pengairan tetap agar kondisi tanah selalu basah tetapi jangan sampai kelebihan air atau airnya menggenang karena dapat mengakibatkan tanaman busuk. Disamping itu keadaan yang menggenang dapat memacu pertumbuhan mikroorganisme anaerobik yang mampu mengurangi aktivitas akar dalam penyerapan unsur hara melalui hasil ekskresinya seperti Thiobacillus ferooxidan yang berupa asam organik yang berinteraksi negatif dengan eksudat akar.

Gambar 6. Penyiraman
3). Pembersihan Gulma dan Pendangiran
Pembersihan gulma dilakukan secara mekanik dengan menggunakan sabit. Setelah dilakukan pembersihan gulma kemudian dilakukan pendangiran yaitu dengan menggunakan cangkul. Kedua kegiatan tersebut dilakukan di sekitar perakaran tanaman buah naga. Hal ini perlu dilakukan karena seperti yang telah diketahui kebanyakan gulma yang tumbuh di lingkungan perakaran tanaman buah naga adalah dari jenis yang banyak mengeluarkan alelopat (Amaronthus spinosus dan Mimosa pudica). Alelopat merupakan senyawa organik (hasil eksudasi akar) yang merugikan aktivitas organisme, menghambat pembelahan sel akar, dan mengganggu akar dalam aktivitas penyerapan material tersuspensi (hara dan air).

Gambar 7. Pendangiran
4). Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan pada tunas samping. Sementara itu batang induk dibiarkan mencapai puncak ajir atau tiang penyangga setinggi 2 m kemudian dipangkas sehingga akan tumbuh tunas atau batang baru. Batang atau tunas baru ini akan tumbuh memanjang kemudian melengkung ke bawah kemudian berbunga dan berbuah. Apabila batang induk dan batang samping tumbuh tunas lagi harus dipangkas semua. Batang induk dibiarkan tumbuh hanya dengan 4 atau 5 batang atau tunas samping saja. Tahap pemangkasan didasarkan pada teori fisiologi dan budidaya tumbuhan yaitu source and sink. Teori ini menjelaskan bahwa hasil fotosintesis yang ada pada batang utama, akan dikonsentrasikan ke daerah percabangan melewati pembuluh floem. Teori tersebut secara tidak langsung menjelaskan bahwa hasil fotosintesis digunakan sebagai energi untuk tanaman dalam rangka menumbuhkan bagian yang lain pada tanaman. Energi tersebut dapat dikonsentrasikan untuk pertumbuhan bagian generatif (buah) apabila mobilitas pelariannya dikurangi. Cara untuk mengurangi mobilitas tersebut, salah satunya adalah dengan pemangkasan (toping). Cara ini banyak digunakan untuk tanaman yang menghasilkan buah pada daerah ujung cabang.

Gambar 8. Pemangkasan
5). Monitoring dan evaluasi
Monitoring dimaksudkan untuk memperbaiki kekurangan yang dilakukan pada kegiatan pemeliharan yang meliputi pengecekan tiang penyangga pada buah naga (pohon gliresidae, jaranan, mahoni) apakah masih hidup atau sudah mati. Pengecekan dilakukan dengan melukai batang bagian atas dan batang bagian bawah. Batang dikatakan masih hidup apabila dilukai batang masih berwarna hijau dan tidak kering. Sebaliknya batang dikatakan sudah mati apabila dilukai batang terlihat berwarna coklat dan mengering.
Setelah diketahui batang yang telah mati maka perlu dilakukan penggantian tiang penyangga dengan pohon yang baru. Penggantian dilakukan dengan langsung mencabut batang sudah mati jika tanaman buah naga masih kecil. Namun jika tanaman sudah besar dan tinggi sekitar 2 meter, maka penggantian tiang penyangga dilakukan dengan menanam pohon di dekat pohon atau tiang penyangga yang telah mati.
Kegiatan monitoring juga dilakukan pada pengamatan penanaman bibit secara vegetatif dan generatif. Diketahui bahwa penanaman secara generatif menunjukkan laju dan daya perkecambahan yang tidak terlihat selama 2 minggu pengamatan dengan jangka waktu pengamatan 2 hari sekali. Sedangkan pengamatan pada bibit vegetatif dapat dibagi menjadi pengamatan pada naungan merah dan biru serta mulsa hitam perak. Penjelasan mengenai naungan merah dan biru serta mulsa hitam perak lebih banyak dibahas pada tahap inovasi.
d. Pemasaran
Dengan melihat besarnya peluang untuk pemasaran buah naga maka dilakukan kegiatan pemasaran. Salah satu bentuk dari kegiatan ini yaitu dengan membuka stand penjualan bibit buah naga dan pemesanan secara langsung. Penjualan bibit buah naga memiliki harga yang bervariasi. Secara umum, bibit buah naga putih batangan dijual dengan harga Rp 10.000,00. Sedangkan bibit buah naga merah batangan dijual dengan harga Rp 20.000,00.
Bibit buah naga akan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi apabila ditanam pada pot. Selain berfungsi untuk tanaman hias, bibit yang ditanam di dalam pot dapat berfungsi untuk produksi. Bibit yang ditanam di dalam pot dipilih yang memiliki bentuk fisik yang bagus seperti banyak tunas, batang yang tua, dan bentuk unik. Bibit buah naga putih yang ditanam dalam pot mempunyai harga mulai dari Rp 15.000,00 – Rp 30.000,00. Sedangkan untuk bibit buah naga merah memiliki harga mulai Rp 25.000,00. Bibit buah naga merah memiliki harga lebih mahal daripada bibit buah naga putih. Hal ini karena rasa buah naga merah yang lebih manis daripada buah naga putih. Selain itu bibit buah naga merah memiliki produksi yang masih sedikit dan pertumbuhannya dari pembibitan sampai terbentuk tunas membutuhkan waktu yang lama.
Pemasaran buah naga di CV. Tani Makmur sementara ini dijual hanya untuk kebutuhan dari para pengunjung kebun, sistem pembeli atau pengunjung memetik sendiri buah di kebun. Buah naga daging putih dijual dengan harga Rp 20.000,00 per kg. Sedangkan buah naga daging merah harganya Rp 40.000,00 per kg. Tanaman buah naga ini akan berbuah terus menerus sampai 20 tahun dengan rata rata produksi satu pohon 20 – 30 buah pada musim buah (September – Maret ) dan kalau pengaturannya bagus tanaman umur 2 tahun pertama bisa memproduksi 50 buah per tiang penyangga dengan berat buah rata rata 500 gr / buah, dan pada umur diatas 3 tahun panen bisa mencapai 200 buah per tiang penyangga.
Konsep pemasaran yaitu penentuan dan kebutuhan pemasaran mengutamakan kebutuhan pembeli, sedangkan konsep penjualan mengutamakan kebutuhan pihak penjualan. Konsep pemasaran bersandar pada empat tiang utama, yaitu fokus pasar, orientasi pelanggan, pemasaran yang terkoordinasi dan kemampulabaan. Prinsip pemasaran terdiri dari a) penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diharapkan konsumen. b) membuat sesuatu yang bisa anda jual, dan jangan menjual apa yang dapat anda buat, cintailah pelanggan (konsumen), bukan produk anda, lakukanlah menurut cara anda untuk meyakinkan pelanggan bahwa produk yang ditawarkan memiliki keunggulan, karena anda yang menentukan, melakukan segalanya dalam batas kemampuan kami untuk menghargai uang pelanggan yang sarat dengan nilai, mutu, dan kepuasan pelanggan (Kotler,1992). Menurut teori, fokus pasar dari peserta magang telah menerapkan pembuatan selebaran. Diharapkan dengan pembuatan dan publikasi selebaran tersebut, mampu diperoleh pembeli dan pelanggan yang setia bagi C.V Tani Makmur Kebun Buah Naga. Adapun penyebaran selebaran dilakukan di swalayan besar dan areal perempatan sepanjang jalan kaliurang, yogyakarta.

Gambar 9. Pemasaran
Adanya stand pemasaran bibit buah naga tersebut merupakan ide atau hasil pemikiran dari mahasiswa yang ingin menerapkan langsung bagaimana cara memasarkan bibit buah naga, yang sebelumnya belum pernah dibuka di lokasi tersebut. Hal itu terkait dengan letak kebun buah naga yang strategis sehingga dapat menarik pengunjung atau pembeli yang lebih banyak secara langsung. Bibit buah naga yang dipasarkan tersebut merupakan hasil penanaman dari mahasiswa.
e. Inovasi
1) Pemasangan Mulsa Hitam Perak
Mulsa merupakan bahan penutup tanah yang terbuat dari plastik (bahan anorganik) yang mempunyai warna berbeda pada kedua sisinya. Pemasangan mulsa bertujuan untuk mengurangi evaporasi, mejaga kelembaban, mengurangi fluktuasi suhu antar siang dan malam, menjaga aktivitas organisme dalam tanah, menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tumbuh dengan baik. Mulsa dibedakan menjadi 2 macam dilihat dari bahan asalnya, antara lain :
1. Mulsa organik
2. Mulsa anorganik
Dalam kegiaitan magang kali ini penggunaan kedua jenis mulsa tersebut digunakan, namun berkaitan dengan inovasi yang dilakukan oleh peserta magang menggunakan mulsa hitam perak, maka untuk pengaruh secara agronomis yang akan diterangkan selanjutnya, adalah pengaruh agronomis dari mulsa anorganik.
Pengaruh secara agronomis terhadap pertumbuhan tanaman buah naga, antara lain :
1. Mengurangi kelembaban daerah antar bibit buah naga sehingga mampu menekan kemunculan penyakit yang disebabkan jamur dan perkembangan hama
2. Mengurangi persaingan tempat pertumbuhan yang nantinya berakibat pada berkurangnya persaingan unsur hara dalam tanah
3. Mengurangi pertumbuhan akar yang saling membelit antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain seingga memudahkan dalam pencabutan bibit stek saat akan dipindahkan ke pot atau polibag
4. Pertumbuhan tunas baru yang muncul semakin banyak dan cepat
5. Kemunculan dan pertumbuhan akar pada tunas baru ataupun bibit lebih bagus
2) Penggunaan Naungan merah dan biru untuk membuktikan adanya efek emerson dengan indikator pertumbuhan tunas buah naga. Dari hasil yang telah diketahui dapat diketahui bahwa pemasangan mulsa warna biru memiliki pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kecepetan tunas baru buah naga dan pertumbuhan akar daun pada tunas tersebut. Sedangkan pemasangan naungan warna merah memiliki pengaruh yang sama dengan tanaman buah naga yang tidak berbedeng.
3. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
a. Kegiatan yang dilakukan dalam budidaya buah naga merupakan suatu kegiatan pokok yang harus dilakukan untuk menunjang produksi buah naga.
b. Kegiatan yang dilakukan selama magang di kebun buah naga meliputi pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan pemasaran.
c. Pelaksanaan kegiatan magang merupakan wahana pendorong motivasi untuk lebih mencintai pertanian pada umumnya, dan perkebunan pada khususnya, sehingga pada kegiatan magang ini, mahasiswa dibekali dengan berbagai gambaran dan teknis-teknis aplikasi secara langsung dilapangan.
d. Bekerja di kebun buah naga memiliki prospek masa depan yang cerah, hal ini ditunjukan dengan sarana dan prasarana yang diberikan perusahaan cukup memadai, dimana buah ini masih mempunyai prospek yang bagus 5 – 10 tahun mendatang.
e. Magang mahasiswa dapat memberikan bekal dan pengalaman kepada mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja.
f. Pemasangan mulsa hitam perak memberikan pengaruh sebagai berikut :
1. Mengurangi kelembaban daerah antar bibit buah naga sehingga mampu menekan kemunculan penyakit yang disebabkan jamur dan perkembangan hama
2. Mengurangi persaingan tempat pertumbuhan yang nantinya berakibat pada berkurangnya persaingan unsur hara dalam tanah
3. Mengurangi pertumbuhan akar yang saling membelit antara tanaman yang satu dengan tanaman yang lain seingga memudahkan dalam pencabutan bibit stek saat akan dipindahkan ke pot atau polibag
4. Pertumbuhan tunas baru yang muncul semakin banyak dan cepat
5. Kemunculan dan pertumbuhan akar pada tunas baru ataupun bibit lebih bagus
g. Sedangkan pemasangan naungan merah dan biru, naungan yang membe rikan pengaruh signifikan adalah naungan biru dari pada naungan merah. Hal ini dikarenakan naungan biru mampu menghasilkan energi yang lebih besar bagi fotosintesis dengan panjang gelombang yang lebih pendek.
h. Pengaruh pemberian vermikompos dan pupuk kandang sapi tidak mempunyai pengaruh yang nyata pada bibit generatif (biji) karena penanaman biji berada pada lingkungan yang terlalu ekstrim dan secara genetis biji buah naga termasuk dalam benih rekalsitran, yaitu benih yang tidak mengalami dormansi sehingga apabila tidak langsung ditanam benih akan mengalami kemunduran atau deteriorasi sehingga benih tidak dapat berkecambah.
4. Saran
Berdasarkan kegiatan yang telah kami lakukan selama magang ada beberapa hal yang perlu diperbaiki antara lain :
a. Selama kegiatan magang perlu dilakukan evaluasi dan monitoring yang teratur agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar.
b. Kegiatan magang sebaiknya lebih dikoordinasi, terutama kegiatan pemasaran.
c. Perlu adanya manajemen perusahaan yang lebih tertata yang meliputi bidang administrasi, sarana prasarana dan komunikasi antara pimpinan dan pekerja.
d. Masalah hama bibit buah naga seperti rayap yang menyerang pangkal batang di lahan persemaian, dapat dilakukan tindakan preventif seperti penggunaan pupuk kandang yang telah matang dan mengurangi penggunaan cocopeat yang dapat mendorong munculnya rayap.
e. Masalah penyakit busuk pangkal batang dapat dicegah dengan mengurangi penyiraman, namun apabila tanah di sekitar perakaran dan permukaan sudah kering maka perlu dilakukan penyiraman.
f. Inovasi-inovasi terbaru dalam hal budidaya yang ramah lingkungan harus lebih dikenalkan kepada pekerja dan pemiliki karena dengan adanya hal tersebut, akan menambah jumlah pendapatan bagi pemilik.
g. Penanaman bibit generatif (biji) seharusnya ditanam dalam media yang lingkungan sekitarnya tidak ekstrim, seperti di kapas yang berada dalam toples atau vermikompos yang ditabur pada cawan.

















DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2004. Buah Naga Punya Banyak Khasiat. diakses dari http://www.waspada.co.id/seni&budaya/tirai/artikel.php?articleid=55799Diakses Tanggal 21 Juli 2009.

_______. 2007. Manual Ringkas Cara Penanaman dan Penjagaan Buah Naga. http://www.agropac.upm.edu.my/teori_df.pdf. Diakses Tanggal 25 Juli 2007.
_______. 2007. Mulsa dan Naungan pada lahan Berbedeng. http://www.agropac.upm.edu.my/teori_df.pdf. Diakses Tanggal 25 Juli 2009.
_______. 2007. http://ms.wikipedia.org/wiki/PokokBuahNaga. Diakses Tanggal 27 Juli 2009.

_______. 2007. http://www.pemda-diy.go.id/berita/article.php?sid=1800. Diakses Tanggal 27 Juli2009.
_______. 2009. Dragon Fruit (Hylocereus undatus). .
Crystal, Garry. 2007. Dragon Fruit- Pitaya, Hylocereus sp. http://www.wisegeek.com/what-is-dragon-fruit.htm. Conjecture Coorporation.
Kotler, P. 1992. Manajemen Pemasaran. Erlangga. Jakarta
Kristanto, D. 2003. Buah Naga Pembudidayaan di Pot dan di Kebun. Penebar Swadaya. Jakarta
Lakitan. 2004. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Mashur. 2001. Vermikompos: Pupuk Kompos Cacing Tanah. Instalasi Penelitian Dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IPPTP). Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian. Mataram
Purba Frans, H.K. 2005. Pengembangan Agribisnis Buah Naga (Dragon Fruit) Indonesia dalam Mencapai Pasar Ekspor. Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar