Untuk
menjadi nomor satu memang tidak mudah. Menurut saya tidak hanya bekerja keras
saja, namun banyak hal-hal atau variabel-variabel yang harus diperhatikan.
Seperti rumus matematika sekoleh menengah pertama, disana dikatakan bahwa
f(x)=(a,b,c,d,.......). Dari rumus tersebut tersirat inti filosofis bahwa semua
yang ada didunia ini termasuk manusia dan segala piranti kehidupannya yang
diwakili oleh karakter f(x) sangat tergantung oleh variabel-variabel internal
dan eksternal yang sudah ada yang diwakili oleh karakter (a,b,c,d,.......),
hampir ada, sedang ada diusahakan dan atau memang benar-benar belum ada. Memang
benar adanya, bahwa manusia merupakan fungsi yang dalam tenggat waktu tertentu
proses hidupnya banyak variabel yang sudah mereka pakai. Bersumber dari buku
yang saya baca yang berjudul Raise You Up yang ditulis oleh Hendrik Lim,
disana disebutkan bahwa untuk menjadi nomor satu harus “Berbeda” dari kebanyakan
orang. Kalimat inilah yang menginspirasi saya untuk menulis artikel ini dalam
rangka mendorong para mahasiswa tingkat akhir untuk segera dan benar mengakhiri
masa perkuliahan dengan memuaskan menurut sudut pandang pengalaman penulis.
Berkaca
dari hidup ini memang tidak ada yang lebih berharga dari sebuah pengalaman
hidup, lebih spesifiknya disini adalah pengalaman akademik di sekian tahun
terakhir saya habiskan bersama teman dan bersama civitas akademika yang ada di
lingkungan kampus. Berawal dari mahasiswa baru yang penuh dengan kebimbangan
dengan pilihan jurusan yang sudah ditempuh beberapa semester atau penuh
semangat yang menggebu untuk segera mencicipi manis, asam, asin dan pahitnya
kehidupan kampus sampai menjadi mahasiswa tingkat akhir yang penuh semangat
atau justru kebimbangan untuk melanjutkan kuliah atau tidak karena berbagai
alasan. Memang ada beberapa yang risau ditambah keraguan di awal masuk kuliah mengenai
jurusan yang berdasarkan roda nasib diperuntukkan untuk masing-masing individu.
Maunya apa? Dapatnya apa? Nah, begitulah yang banyak saya lihat pada beberapa
teman yang pindah jurusan atau ingin memilih peruntungan di bidang lain yang
menurut mereka baik untuk dirinya.
Bak
anak kecil mengkkoleksi mainan, pengalaman kehidupan kampus yang saya habiskan
selama 5,5 tahun sangat berwarna jika dilihat dari kacamata kehidupan saat saya
masih berada di bangku SMA. Tidak mudah mengalami masa peralihan yang menurut
beberapa teman, kedewasaan saya terlambat 5-10 tahun dari tingkat kedewasaan laki-laki
pada umumnya pada saat itu. Di sini tentunya kedewasaan secara mental dan
spiritual. Kalau boleh saya mengakui tidak semua yang dikatakan mereka benar
dan tidak semuanya pula salah, dan untuk yang satu ini saya akui benar. Namun
untuk kemabali pada rumus matematika yang saya tulis di awal paragraf bahawa
manusia adalah satu varibel yang berbeda antara satu dengan yang lain, di sini
saya maksudkan bahwa kedewasaan pada tiap orang berbeda-beda dalam berbagai
bidang. Kembali pada pokok permasalahan, pecarian jati diri di usia yang
seharusnya sudah tidak ada lagi pencarian hal tersebut, membuat sedikit banyak
saya berbeda dari kebanyakan. Namun tentunya hal tersebut akan tetap memberikan
beberapa pengaruh terhadap diri saya ”Dari Mati Aw sampai Menjadi Mati Akh”(Dari
Mahasiswa Tingkat Awal sampai Mahasiswa Tingkat Akhir).
BERSAMBUNG.......tunggu kelanjutannya!